Thursday, January 30, 2025

Kebanyakan mainan justru bikin anak bosan?

 

Saat awal perkuliahan diploma, satu yang cukup berkesan bagi saya adalah  topik mengenai prepared environment atau lingkungan yang dipersiapkan. Topik ini sangat mengena sekali karena lingkungan di sekitar  anak – anak ternyata memberikan pengaruh yang cukup kuat bagi kehidupannya. Sederhana sekali, dari mulai pemilihan warna furniture, barang apa saja yang diletakkan di rumah, sehingga seberapa kita mengatur letak/ketinggian barang tersebut agar mudah tergapai anak.

 

Saya beberapa kali mendapatkan orang tua murid yang mengatakan anaknya mudah sekali berganti mainan dari mainan yang satu ke mainan yang lain ketika bermain di rumah. Tapi kalo boleh jujur, hal ini terjadi juga pada saya beberapa tahun lalu ketika Uno melakukan hal demikian yang serupa. Saat di rumah, saya memanjakan Uno dengan menjejerkan beberapa jenis mainan, sekitar lebih dari 10 di ruang bermainnya. Mainan yang disediakan pun beraneka jenis, ada yang dari material kayu, ada yang memiliki efek suara, sampai yang berjenis open ended play.

Namun setelah saya amati, Uno dapat berganti mainan dari mainan yang satu ke mainan yang lain, dan rata – rata satu permainan pun mungkin hanya dieksplor tidak sampai 1 menit. Ternyata terlalu banyaknya mainan yang dipaparkan di rumah, terkadang membuat anak merasa bingung. Setelah ditelaah lebih lanjut, ada beberapa hal yang menyebabkan hal ini terjadi :

 

1.  Stimulasi yang berlebihan/ Overstimulated

Ketika anak dihadapkan oleh banyaknya mainan, atau terlalu banyak pilihan mereka akan merasa overwhelmed. Akhirnya mereka pun bermain dengan melompati satu mainan ke mainan yang lain tanpa mengeksplorasi satu permainan lebih lanjut. Apabila hal ini terjadi, orang tua sebaiknya membatasi mainan di rumah, sekitar 3 sampai dengan maksimal 5. Dan jangan lupa untuk melakukan rotasi pada mainan, bisa dilakukan 2 minggu sekali atau bahkan 1 bulan sekali. Coba cek perubahannya deh.

2.  Rasa penasaran yang tinggi

Pernah dengar bahwa anak – anak adalah the explorer? Nah, terbayangkan ya bahwa tiap anak memiliki rasa penasaran yang cukup tinggi dan selalu ingin mencoba hal baru. Namun mereka juga cukup cepat merasa bosan apabila mainan yang disediakan kurang menantang. Sehingga ada baiknya apabila orang tua menyediakan permainan yang sifatnya open ended seperti lego, balok kayu, playdough yang dapat dimainkan dalam waktu yang cukup panjang.

3.  Belum mengembangkan fokus dan konsentrasi

Pada anak usia balita yaitu 1 – 3 tahun,jujur aja kalo kita tidak bisa berharap banyak mengenai rentang fokus dikarenakan sesuai usia tersebut angka maksimal mereka dapat fokus adalah selama 5 sampai 6 menit. Apakah hal ini wajar? Tentu saja. Namun, secara perlahan dan semakin bertambahnya umur, perkembangan fokus setiap anak akan selalu berkembang.  Tips untuk melatih fokus dan konsentrasi anak adalah sediakan ruangan yang minim distraksi, jadi jauhin banget gadget ataupun kalo ada tv perlu untuk dimatikan, sehingga lingkungan tersebut mendukung anak agar terbentuk deep play. Dan jangan lupa memberikan mereka kesempatan untuk bermain secara mandiri dan tidak mengintervensi secara terburu – buru.

4.  Kurangnya tantangan atau keterlibatan

Pilihlah mainan sesuai usia anak. Contohnya, anak usia 3 tahun disediakan mainan monopoli, apakah sesuai? hoho. Jika mainan tidak sesuai usia terlebih lagi minatnya, anak pun akan lebih cepat meninggalkan mainan. Namun, apabila mainan yang disediakan terlalu mudah, anak juga dengan mudah akan meninggalkannya. Dapat dikatakan hal ini terlihat mudah, namun ternyata sulit karena kita sebagai orang tua harus melihat periode sensitive anak sesuai usia yang sedang dijalani. Misalnya ketika anak berusia 2 tahun sedang senang sekali menuang air atau memencet apapun yang ada di rumah. Ada baiknya orang tua memfasilitasi hal tersebut sampai anak merasa cukup puas.

 

Ternyata memahami konsep prepared environment dapat membantu saya pribadi menyadari bahwa lingkungan yang ada di sekitar anak memiliki peran yang cukup besar dalam perkembangannya. Baik bagaimana anak bermain dan bereksplorasi. Dan ternyata dengan memberikan mainan yang tepat, mengatur ruang yang mendukung, dan memahami kebutuhan anak sesuai tahap perkembangannya dapat membantu mereka lebih fokus, mandiri, dan menikmati setiap proses belajar melalui permainan. 

Yaaa emang sih awalnya tidak berjalan dengan mulus dan TIDAK INSTANT, tapi perubahan kecil dalam cara kita sebagai orang tua dalam menata lingkungan ternyata dapat membawa dampak yang cukup besar bagi anak nantinya. Nah coba coba, dilihat – lihat lagi lingkungan di sekitar rumah, apakah mainannya masih terlalu banyak? Apakah ada benda – benda yang kurang ramah anak masih tertata di rumah? Yuk, kita sama – sama belajar dan berusaha untuk selalu membersamai anak dari yang awal sekali yaitu menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangannya 😊

 

Sumber buku :
Maria Montessori, The Absorbent Mind
Dr. Lisa Dunlap, How to Raise Healthy and Happy Children: The Importance of Prepared Environment
David Elkind, The Power of Play: Learning What Comes Naturally

Website 
American Montessori Society

 


No comments:

Post a Comment

Kebanyakan mainan justru bikin anak bosan?

  Saat awal perkuliahan diploma, satu yang cukup berkesan bagi saya adalah  topik mengenai  prepared environment atau lingkungan yang dip...